Aku, adikku dan beberapa teman di Jogja yang senang musik mulai “kecil-kecilan” belajar jadi pencari bakat dibidang musik untuk direkam dengan anggaran “pas-pas-an” untuk diedarkan. Aku mau berbagi pengalaman untuk urusan yang satu ini. Pernah suatu ketika dibawah Label “Woodels” Jogjakarta adikku dan kawan-kawan merekam dan mengedarkan kelompok musisi berbakat yaitu “Jikustik” dari Jogja ( http://www.last.fm/music/Jikustik ). Saat itu “Woodels” bekerjasama dengan “Warner Music Indonesia”, alhamdulilah album Jikustik I dan II bisa sukses dalam pemasaran. Bahkan Album pertama mereka mencapai “triple platinum” untuk ukuran industri musik Indonesia (yang sampai sekarang masih sarat pembajakan). Konon katanya saat itu mencapai 450.000 keping CD/kaset. Selanjutnya “Jikustik” berkembang sampai sekarang dan langsung diproduksi oleh “Warner Music Indonesia”. Setelah itu ada sejumlah album yang diproduksi dibawah label “Woodels” Jogjakarta antara lain albumnya “Bayou” ( http://uk.youtube.com/user/andibayou ) yang kerjasama kalau nggak salah dengan Buletin Music, dan albumnya “SO1M” (bekerjasama dengan Program/Virgo Ramayana). Sialnya, tidak sesukses “Jikustik”. Pengalaman itu menunjukkan bahwa tidak semua kerjasama dengan label besar bisa sukses dipasaran. Sukses “Woodels” untuk “Jikustik” terutama pada album pertama dan kedua ternyata tidak terjadi pada “Bayou” maupun “SO1M”. Sebagai pencari bakat (sekali lagi dengan permodalan yang terbatas), “Woodels” terus bekerja khususnya untuk mencarikan kesempatan bagi musisi pop/rock Jogjakarta. Pada paruh terakhir 2007, kita dapat Kelompok musik Jogjakarta yang kita pandang sangat berbakat dan karya musik yang patut didengar khalayak yaitu DIODI. Pada saat yang bersamaan, adikku bekerjasama dengan Mixpro juga produksi sebuah kelompok musik rock Jogja yaitu “Not Negative” (http://www.last.fm/music/Not+Negative). Dengan Label “Mixpro” (yang juga bukan label besar tapi juga bukan Indie), kita edarkan album kelompok musik DIODI yang berjudul “Jarak Dua Kota”. Awalnya juga begitu, cari mitra major label untuk kerjasama baik dari segi permodalan atau distribusi. Kalau major label diajak patungan modal belum tentu mereka mau. Bisa maklum sih karena mereka juga mesti bikin perhitungan untung rugi. Kalau untuk distribusi mungkin major label bisa diajak kerjasama. Nah disini kita mesti yakin seberapa besar produk yang kita buat itu dapat beredar secara luas, apa bedanya distribusinya dilakukan oleh major label atau oleh distributor produk musik non-label, apakah produk kita tidak hanya dianggap sebagai barang dagangan saja dalam arti laku ya syukur kalau nggak laku ya dikembalikan kepada produsernya, dan sebagainya. Setelah pikir-pikir dan melihat praktek yang pernah kita lakukan untuk “Jikustik” sampai “SO1M”, maka untuk DIODI kita putuskan untuk mengedarkan sendiri dan melalui distributor non major label. Jadilah DIODI dengan album “Jarak Dua Kota” kita edarkan sendiri ( http://www.last.fm/music/Diodi ). Nah disini “Mixpro” Jogjakarta sebagai “minor label” bersama produsernya DIODI melangkah dengan semangat “Indie label”. Upaya pemasaran dilakukan mulai dari pendistribusian secara konvensional lewat distributor maupun langsung ke toko (Thanks to Disc Tarra outlets) sampai melalui dunia maya seperti Mailing List (thanks to mailing list yahoo, google, my space, dan youtube dsbnya), Radio Internet (Thanks to DJwirya.com dan Last FM London), dukungan radio (thanks to Prambors, Cirebon FM, dan jaringan radio lain yang putar DIODI), pakai SMS, jualan Ringbacktone/ NSP di sejumlah penyedia layanan telpon seluler, dan secara digital melalui Digital Beat Store di Grand Indonesia. Pokoknya berbagai cara deh dengan sekali lagi permodalan yang terbatas. Sehingga kita punya joke “produksi sendiri, edarkan sendiri, kalau perlu dibeli sendiri”. Maksudnya dibeli sendiri antara lain utk souvenirs atau disumbangkan untuk “door prize” misalnya. Untuk promo video?? Pada awalnya belum ada modal buat bikin video. Nggak mampu bikin video clip…Publik tahu keberadaan DIODI hanya dari dukungan pihak-pihak yang aku sebutkan diatas. Cuma pada saat itu anda tahu apa yang terjadi??? Saat itu beredar dibeberapa tempat DVD BAJAKAN berisi seluruh lagunya DIODI yang seakan-akan sudah ada video klipnya (mungkin saat inipun masih ada di lapak-lapak bajakan). Tahu nggak, Videoclip nya diambil dari adegan sinetron atau film apa nggak jelas (kata yang pernah nonton videoclip nya diambil dari adegan-adegan di film “Jakarta Undercover”). Kalau betul dari film itu, ya videoclipnya jadi penuh adegan “seronok”. Gambar personil DIODI dalam DVD bajakan itu dipasang oleh pembajaknya dipojok kiri atas. Sebagai produser, emosi kita diacak-acak oleh pembajak yaitu “bangga” campur “geram dan mangkel”. Mungkin pembajak jaman sekarang ini punya tim analisis yang bisa me-review dan memprediksi pemasaran di Industri musik ya??? Nah, setelah ada modal sedikit kita buat videoclip di Jogja dengan biaya paket hemat alias murah meriah. Hasilnya secara komersil??? Terus terang, sampai sekarang akupun nggak tahu….Lho kok??? Lha iya lah…bagaimana bisa tahu sebab selain diganggu pembajak, tidak ada sistem di republik ini yang bisa memantau jumlah peredaran resmi suatu karya musik yang diedarkan secara komersil. Kalau soal yang satu ini, nanti akan saya buat tulisan tersendiri. Hal yang aku ingin berbagi disini adalah mendorong semangat teman-teman yang menggeluti bidang ini atau teman-teman yang bermaksud terjun ke bidang ini untuk tetap berproduksi dan memasarkan melalui berbagai cara yang “halal”, perluas networking utk kepentingan akses distribusi, dan pelihara semangat independen. Tengok “Diodi” dan “Not Negative” di http://www.youtube.com/user/woodelsjkt. Ada yang mau berbagi pengalaman dengan aku???
- Diodi
- Not Negative
- Jikustik I
- Jikustik II
- Bayou
- SO1M
Jakarta, 2 Agustus 2008Herry Soetanto






venture yang paling menguntungkan Jikustik pak?
ternyata bertangan dingin juga
Oleh: agam on September 22, 2008
at 15:19
Sebetulnya yang bertangan dingin mengorbitkan popularitas Jikustik adalah Woodels Production Jogjakarta yang dimotori langsung adik-adikku yaitu Rudy dan Ady.
Oleh: Herry Soetanto on September 22, 2008
at 15:19
Gmn kbrnya pak..??
msh ingt dgn sy to..?
tommy keyboard SO1M
Oleh: tommy on Februari 8, 2009
at 15:19
Hello bung Tommy, tentu saya masih ingat. Bagaimana kabar anda? Masih bermusik? Teman-teman SO1M masih aktif atau sudah ada kumpulan musik yang baru? Masih semangat di dunia musik? Banyak ya pertanyaan saya….memang nggak gampang kok “bermain” di industri yang satu ini. Amat “ajaib” cara mainnya. Kalau mau lihat iklim “tidak saling percaya” ya paling kental di industri ini. Padahal musik termasuk dalam industri/ekonomi kreatif lho…Aneh ya…
Oleh: Herry Soetanto on Februari 11, 2009
at 15:19
Salam Kenal Kawan,
Pada bulan Desember 2007 Elex Yo Ben (EYB) : Duo Electro Rock/Progressive Rock/Progressive Metal yang digawangi oleh dua orang filmmaker, telah menyelesaikan sebuah paket album yang kemudian diberi tajuk GENDING BEJAD. Paket ini terdiri dari VCD ( 13 Video klip) dan CD Audio (10 lagu) dibawah bendera EYB LABEL yang diselenggarakan oleh kedua personil EYB sendiri.
Menjelang “album kedua” yang akan diluncurkan pada pertengahan tahun ini, EYB mempersembahkan 3 buah lagu dan video dari album GENDING BEJAD yang bisa di download secara gratis. Silahkan mendownloadnya di: http://elexyoben.wordpress.com/ dan videonya di http://www.seleb.tv/content/blogcategory/20/237/
Meski projectnya baru berumur dua tahun, namun hingga saat ini EYB telah menelurkan satu buah video album, satu buah video single kolaborasi sastra dan rock (berdurasi 25 menit) dan empat buah soundtrack indie movie.
Salam
ELEX YO BEN
Brutal Tapi Sopan
kunjungi http://elexyoben.wordpress.com/ siapa tau ada yang bisa kita kerjakan bareng.
Oleh: elexyoben on Maret 9, 2009
at 15:19