Daripada dibajak…datangi saja. Aman kok….

Stop Pembajakan

Stop Pembajakan

Akhir-akhir ini begitu banyak musisi internasional yang berdatangan ke Indonesia, Jakarta khususnya. Mulai dari yang pop sampai jenis musik rock yang paling heboh. Britney Spears, Diana Rose, Alicia Keys, Toto, Avenged Sevenfold, My Chemical Romance, Duran-duran, Story of the Year, dan sebentar lagi akan muncul di Jakarta rock groups seperti One Republic, Simple Plan, dan macam-macam lagi. Belum lagi musisi mancanegara yang muncul dalam berbagai festival yang digelar di tanah air seperti Java Jazz. Bagus itu…meskipun tiket masuk untuk menonton juga nggak murah. Seorang promotor ternama di republik ini mengemukakan bahwa hal itu menunjukkan bahwa Indonesia dipandang aman untuk didatangi dan publiknya sangat apresiatif terhadap musik yang disajikan. Sekali lagi itu indikator yang bagus juga untuk melihat seberapa jauh Indonesia dipandang aman untuk didatangi. Namun demikian, terpikir juga oleh saya apakah kehadiran musisi tenar internasional ke Indonesia (sebagian besar ke Jakarta sih..) hanya karena faktor keamanan saja??? Kayaknya sih nggak cuma itu…Ada hal paling “parah” di republik tercinta ini terutama yang terkait dengan industri hiburan termasuk musik, yaitu tidak berkurangnya pembajakan karya cipta bahkan semakin “menggila”. Karya cipta musik, film, program komputer dan lain-lain tetap menjadi sasaran empuk buat dibajak. Dari pengamatan, kayaknya karya cipta musik baik lokal maupun internasional yang paling menjadi sasaran empuk pembajak. Dalam kondisi tanah air seperti itu, maka nggak heran kalau para manajemen artis internasional berpikir lebih baik datangi saja negeri yang penuh pembajak ini. Daripada nggak ada pemasukan sama sekali dari jualan CD/DVD atau kaset karena sudah dibajak, lebih baik datangi dan suruh penggemarnya bayar tiket yang pasti mahal….Untuk pertunjukan musik mancanegara ini penonton tanah air ini mau kok bayar tiket dari yang ratusan ribu sampai jutaan rupiah. Kalau pada waktu yang lalu musisi mancanegara khususnya kelompok musik datang ke Jakarta atau Bali buat promo tour dengan gaya musik akustik agar rekamannya laku, sekarang langsung datang dan bikin pagelaran. Musisi lokal juga demikian. Kayaknya nggak ada musisi lokal yang mengandalkan pemasukan dari rekaman musiknya, mereka akan berlomba cari rejeki dari manggung. Itu semua ok saja…lantas apa ujung dari tulisan ini? Kesimpulan dari pengamatan saya ini adalah bahwa faktor keamanan bukan satu-satunya alasan musisi internasional berdatangan ke tanah air. Mereka sudah kondang dan tidak butuh promosi lagi, jadi mereka datang untuk mengkompensasi atau setidaknya mengurangi kerugian dari karya cipta mereka yang dibajak di Indonesia. Seandainya Indonesia belum aman, saya yakin mereka juga akan tetap punya nyali buat manggung setidaknya di Jakarta (atau Bali). Konon katanya pemerintah Amerika Serikat dan Australia sudah menarik “travel warning” nya untuk Indonesia alias sudah dinyatakan aman untuk dikunjungi. Ini juga tentunya dengan memperhitungkan semakin bertambahnya musisi dari negeri mereka manggung di Indonesia untuk mendapat pemasukan yang memadai. Indonesia boleh jadi relatif sudah aman dari gangguan keamanan, tetapi tetap belum aman sama sekali dari ancaman pembajak hak kekayaan intelektual termasuk karya cipta musik. Cap negeri pembajak masih menempel di tanah air tercinta ini. Kalau misalnya pembajakan bisa diberantas atau setidaknya dikurangi maka seyogyanya harga tiket menonton pertunjukan musisi internasional nggak perlu sampai terlalu mahal sehingga juga memberikan akses bagi penikmat musik tanah air yang kantongnya pas-pasan untuk ikut nonton. Ini tulisan “ngalor-ngidul”, ujungnya kemana sih???? Ujungnya nggak jauh-jauh…stop pembajakan karya cipta agar Indonesia yang aman ini juga bisa tetap dikunjungi musisi internasional (dengan kehadiran penonton internasional setidaknya dari negeri jiran seperti Australia dan Malaysia/Singapura), dengan harga tiket nonton yang nggak kemahalan dan pertunjukannya tidak hanya di Jakarta saja.  Sampai deh di ujungnya….

Jakarta, 24 Juli 2008

Tanggapan

  1. mohon maaf bukan bermaksud apa2,mungkin perlu dilihat juga dari segi honor bandnya pada u/ show disetiap negara apakah sama,kalo sama mungkin negara pembajak bukan salah satu indikator yg kuat u/ band yg datang konser ke negara pembajak. sekali lagi mohon maaf,sy cuma coba berpikir dari sisi lain.
    Bst Rgds,

  2. Mas or Mbak rioduke, Mungkin juga sih pendapat anda benar. Mungkin juga maraknya pembajakan di negeri tercinta dipandang manajemen mereka sebagai promosi gratis. Biarpun nggak dapat income dari rekaman mereka di Indonesia (meskipun lagunya hits di Indonesia), income bisa didapat dari kontrak manggung. Daripada nggak dapat sama sekali he.he..he

  3. Ah yang melakukan pembajakan juga pengusaha dari golongan tertentu, yang menguasai jaringan distribusi musik, film dan lainnya. jadi jangan mimpi berantas pembajakan, kalau orang indonesia asli gak mungkin jadi pembajak, mereka hanya kaki tangan saja

  4. salam kenal dulu semuanya…..
    emang membrantas pembajakan itu sulit di negeri tercinta ini terlihat dari …pedagang dirazia sekarang nanti 3/7 hari udah pada nongol lagi …….kali bisa berhenti kalau masyarakat sudah benar2 tidak mau membeli barang bajakan …….


Beri tanggapan

Your response: