Awal Juli 2008 aku punya kesempatan keluyuran ke Genting Highland, Malaysia. Memang ada Casino ditempat itu, tapi aku nggak mau berbagi cerita dengan urusan yang bisa bikin bangkrut kita. Aku cuma mau cerita bahwa di satu toko yang jualan audio/video di kompleks hiburan Genting Highland itu aku temukan CD dari rock groups angkatan ‘70an sampai akhir ‘90an. Kalau cuma CD rock groups itu ya bukan cerita istimewa. Yang istimewa disini buatku bukanlah rekaman “live” nya, karena itu juga biasa. Lha yang istimewa apa dong??? Yang istimewa adalah thema dari rekaman “live’ itu, misalnya The Who “Canada Live”, Uriah Heep “New Jersey Live”, Starship “Kingsport Live”, ada juga live nya Van Halen, Europe dan lain-lain. CD tersebut pasti bukan bajakan karena di kulit mukanya ditempel stiker distributornya yang perusahaan Malaysia. Kualitas rekaman cukup ok dan…..ini dia…harganya murah yaitu cuma Rm. 9,90. Kualitas covernya sangat sederhana dan tidak ada keterangan tentang isi rekamannya. Pokoknya sederhana banget untuk ukuran CD orisinil. Sekali lagi, kalau dijual resmi ditoko dan tertulis nama distributornya yang perusahaan Malaysia tentu bisa dipastikan bukan rekaman bajakan. Hal yang aku ingin tahu adalah bagaimana bentuk kerjasama bisnis antara perusahaan perekam di negeri asalnya dengan distributor lokal Malaysia kok harganya bisa sangat murah. Uniknya, pada CD harga murah dengan original artis itu lebih menonjol distributornya dibanding perusahaan rekamannya. Apakah distributornya membayar royalty yang murah sehingga harga pasarnya jadi murah? Ringkasnya, CD original dengan musisi classic rock terkenal dengan harga sangat…sangat…murah. Karena penasaran, aku masuk ke official website-nya Uriah Heep (Group rock kondang akhir ‘70an awal 80an) dan cari info apakah mereka punya album “live” dengan judul “New Jersey Live”. Ya memang nggak ada rekaman mereka dengan judul itu. Masih penasaran, aku kirim e-mail ke website mereka untukcari tahu. Bagaimana hasil ke-penasaran-ku mudah-mudahan dapat segera dapat jawabannya. Tapi kalau anda bisa kasih komentar atau berbagai info dalam masalah ini, tentunya bisa tambah pengetahuan dalam masalah perlindungan karya cipta dalam kerangka hak kekayaan intelektual. Aku tunggu komentarnya…..
Jakarta, 13 Juli 2008

Biasanya yang melakukan itu adalah perekam2 “amatiran”, mereka penonton sebuah konser musik yang “kreatif ngerekam” show tersebut… alhasil kadang kualitas suara audionya juga tidak menjanjikan alias tidak bagus… tapi dasar jaman sekarang… itu bisa di “asumsi” kan langka sehingga menjadi collectible items… jaman sekarang mas… orang berlomba2 cari yang langka… apil ora apik sing penting langka… waton langka… hueheheheh…
Oleh: satriyoyu on Agustus 5, 2008
at 15:19
Mas Satriyoyu, kalau rekaman model kayak gitu alias “bootleg” kita bisa maklum deh. Kualitas suaranya pasti jauh banget dari layak. Biasanya direkam secara sembunyi-sembunyi pada waktu ada suatu konser musik. Bisa juga nyolong dari mixer yang dipakai pada waktu show berlangsung. Biasanya kalau yang model ngrekam secara nyolong dari mixer suaranya rada lumayan. Tapi mas, yang dijual di toko di Genting Highland ini kualitas suaranya bagus meskipun tampaknya nggak dirapihkan lagi distudio. Terus terang saya penasaran karena kalau masuk ke website resmi dari group dimaksud, tidak ada di diskografinya. Tapi jualnya resmi dengan lisensi dan harganya sangat murah. Sekarang gini deh…apakah ada informasi tentang rekaman “live” nya Starship (Kingsport Live), Uriah Heep (New Jersey Live), Uriah Heep (live at the Astoria, UK), Europe (Toronto Live), The Who (Canada Live), dan Van Halen (Live in New Haven, USA 86). Apakah judul-judul tersebut merupakan terbitan resmi dari perusahaan yang merekam mereka. Atau dengan kata lain apakah rekaman tersebut bukan rekaman bajakan atau direlease tanpa ijin? Atau mungkin direkam dari DVD live groups tersebut (bisa dengan ijin atau tanpa ijin)? Menarik untuk diamati….Salam
Oleh: Herry Soetanto on Agustus 9, 2008
at 15:19
Mas Herry, menurut saya itu bukan album resmi group band yang bersangkutan. Kalau resmi pasti dimasukkan dalam discography mereka di web site resminya. Dari mana mereka dapatkan sumbernya? Ini yang mungkin nyolong dari mixer mas… hahahaha…. Salam.
Oleh: satriyoyu on Agustus 13, 2008
at 15:19
Pak Herry, hati-hati kalau ke Genting. nanti difoto kayak Syahrial Oesman Gub SUmsel. nggak jadi menteri dong hahaha…
Oleh: agam on September 22, 2008
at 15:19
Iya ya, produk kayak gitu asli nggak ya.
Tp jelas, asli gak asli gak bisa dilihat apakah ia ada list diskografi (resmi) si artis. Misalnya, album live itu. Biasanya artis melakukan tour di sekian kota sekian negara sekaligus.
Nah, dr sekian konser itu paling yg direkam jadi album live hanya bbrp. Gak semuanya, biasanya dipilih yg paling bagus. Nah mngkin, entah dg kenakalan ttt, atau perjanjian si artis dg “panitia live”, yg “kurang2 bagus” itu jadi bagiannya siapa begitu. Dan inilah mgkn yg lalu dijual lagi di genting itu.
Tp apapun itu menurut sy produk “tak resmi” itu menarik. Lebih menarik lagi, bisa/mau nggak ya yg di genting itu diajak buka konter di sini? Klo nanti ada di sini (jkt), mohon infonya ya?
Oleh: bah reggae on November 19, 2008
at 15:19
Mas Haerry, sebagai bagian BMI/TKI yang berada di Brunei Darussalam saya juga merasa heran, semua DVD, VCD penyanyi INdonesia, rock, kliasik, ludruk, palapa, koplo, kendang kempul, iwan fals, pokoknyas emua musik, di rekam dan dijual oleh perusahaan malingsia, aku juga gak tahu gimana prosesnya ini terjadi. Kalaua da DVD yang asli dari Indonesia di jual mahal banget di Brunei, kalau yang produksi selangor murah-2. Satu hal lagi otoritas Brunei gak melakukan sweeping atau operasi kalau tidak ada komplain dari pihak indon atau pihak2 yang merasa di rugikan. jadi selama ini yang namanya Pirate of Cariban( baca pembajakan musik/ kasek bajaka ) beredar dengan bebeas, kaya di Glodok saja.
Oleh: Bagus Handoko on Februari 11, 2009
at 15:19
Ya mas Bagus. Saya juga pernah ke Bandar Seri Begawan, dan lihat benda-benda bajakan itu disuatu toko di pusat kota. Bayangin di toko…Di Indonesia masih “sopan” karena benda bajakan dijual di lapak. Kalau lihat kayak gitu, sedih juga ya karya musisi Indonesia dibajakin seenaknya. Belum kaya banget kok jadi sasaran pembajakan. Kalau sudah begini, baru terasa pentingnya perlindungan Hak kekayaan Intelektual. Tapi bagaimana bisa ngomong kayak gini, lha wong di negeri sendiri juga dibajak. Bahkan konon kabarnya pembajakan di Indonesia ini sudah ibarat jeruk makan jeruk. Konon…sekali lagi konon… ada produser yang membajak barangnya alias produksinya sendiri. Kalau memang benar ini sudah sangat kriminal. Dosanya rada ringan karena membajak produknya sendiri, tapi dosa sama musisi/artisnya dan sama pemerintah. Wis mumet…
Oleh: Herry Soetanto on Maret 6, 2009
at 15:19