Tragedi Kemiskinan…Ini Gila!!!!

Memasuki bulan Ramadhan, bagi kaum muslimin merupakan saat yang sangat membahagiakan. Berpuasa di bulan Ramadhan merupakan ibadah yang sayang kalau ditinggalkan. Disaat itu kita semua berusaha menahan berbagai nafsu duniawi termasuk meninggalkan perilaku buruk yang pastinya tidak terpuji. Itu semua sudah jelas, dan tentunya semua mestinya begitu.

 Namun sayangnya disaat itu nurani kita menjadi terusik bahkan terganggu dengan sejumlah kejadian yang rasanya hampir tidak masuk akal kita. Kalau harga barang naik menjelang lebaran rasanya sih bukan hal aneh bahkan dianggap oleh sebagian kita sebagai hal yang wajar. Tapi bagaimana kalau kita melihat ada kejadian seperti beredarnya daging gelondongan, produk kadaluwarsa yang beredar, dan hal yang lebih membuat kita terkaget-kaget adalah tertangkapnya perbuatan menjual dan mengedarkan daging sampah.

 Daging sampah….bayangkan sisa makanan yang umumnya adalah daging, baik daging sapi atau daging ayam sisa dari hotel atau restauran yang sudah dibuang ke keranjang sampah (dan ini sudah pasti menjijikkan…) didaur ulang kemudian dijual belikan ke masyarakat untuk dikonsumsi. Astaga…ini modus kriminal apa lagi sih???? Si pengedar makanan alias daging bekas itu sudah pasti kelakuannya nggak bener…Serunya lagi, sementara si oknum tersebut sudah ditangkap dan dibawa ke kantor polisi, perbuatan itu konon masih berlanjut meskipun mungkin juga kemudian dihentikan. Ini baru ketahuan pada satu orang, mungkin juga praktek tercela ini dilakukan tidak hanya oleh orang itu, tapi orang lain juga. Bisa jadi tidak hanya terjadi di Jakarta tetapi terjadi di kota-kota selain Jakarta. Hebatnya, menurut pengakuan orang yang tertangkap (konon namanya pak Darmo atau pak Darno) praktek tercela itu sudah dilakukan selama lima tahunan.

 Belum lagi kita geleng-geleng kepala dengan kejadian ini, muncul berita adanya korban tewas sebanyak 21 orang karena berebut zakat di Pasuruan. Hal yang menyedihkan mereka tewas karena berebut zakat berupa uang yang besarnya Rp. 30 ribu atau kalau dikurs dollar Amerika kurang dari 3 dollar Amerika. Ya ampun…apa sih yang sedang terjadi disekitar kita??? Kalau meminjam teriakannya Nagabonar…apa kata dunia…melihat kejadian-kejadian ini. Ok…semua sudah terjadi, dan tulisan ini tidak dimaksudkan untuk saling tuding atau salah menyalahkan. Biarlah proses hukum di dunia atau di akhirat nanti yang menentukan.

 Saya hanya ingin melihat sisi lain dari peristiwa-peristiwa itu. Lihatlah para korban rebutan zakat di Pasuruan itu…mereka orang-orang kecil nan miskin. Siapa yang membeli dan mendaur ulang sampah daging itu?? Ya orang kecil nan miskin. Siapa yang berpotensi bahkan sudah dipastikan menjadi konsumen daging sampah yang didaur ulang itu??? Lagi-lagi yang orang kecil nan miskin. Tidak berlebihan kalau hal itu merupakan suatu tragedi yang terjadi dengan dilatar belakangi kemiskinan. Mereka si kecil nan miskin itu adalah korban. Mereka adalah kelompok masyarakat yang tidak punya peluang apapun untuk bisa hidup sebagaimana layaknya manusia. Peluang atau kesempatan untuk hidup lebih layak bagi mereka ya hanya dari melakukan perbuatan itu. Antri sampai mati lemas untuk peluang mendapatkan uang yang nilainya Rp. 30 ribu, menjual daging dari sampah untuk dapat hidup lebih layak, dan mengkonsumsi daging sisa makanan yang sudah dibuang di keranjang sampah dan didaur ulang agar bisa makan daging dengan harga sangat murah.

 Mereka tidak punya peluang atau kesempatan seperti halnya kelompok masyarakat yang mampu baik dengan jalan halal atau haram. Mereka tidak punya peluang atau kesempatan untuk bisa kaya raya, jangankan dengan cara halal dengan cara haram pun mereka nggak punya kesempatan. Mereka bukan kelompok masyarakat yang bisa dapat uang dari korupsi atau gratifikasi. Pokoknya nggak ada pilihan lain selain dari belas kasihan orang lain atau berlaku nakal untuk bisa bertahan hidup. Orang seperti Pak Darmo atau Pak Darno itu nggak akan bisa ngerti mengapa dia harus dihukum dan jadi kriminal dengan ancaman hukuman berdasar pasal ini dan itu dariberbagai undang-undang atau peraturan. Lihat bagaimana ekspresinya pada waktu ditanya wartawan atas perbuatannya. Wajah si kecil nan miskin itu dengan polos itu mengatakan bahwa dia hanya membeli daging sampah itu dan mendaurulang untuk dijual dalam berbagai bentuk. Benarkah perbuatannya itu? Jelas tidak!!! Tidak ada hal yang bisa membenarkan perbuatan itu. Cuma yang menjadi pertanyaan apakah mengirim dia ke penjara membuat semua permasalahan menjadi selesai? Ya pasti tidak.

 Hal yang perlu menjadi pemikiran untuk diatasi adalah masalah mendasarnya yaitu kemiskinan itu tadi.  Untuk kasusnya itu, yah buat aturan agar pengusaha hotel atau restauran bahkan sampai kelas warung harus membuang sisa makanan sedemikian rupa agar tidak dapat didaur ulang untuk dimakan lagi. Ya mbuh gimana bunyinya aturan itu, yang penting sampah itu tadi tidak dimanfaatkan sehingga membahayakan kesehatan orang. Nah buat pelanggan, mbok ya nuruti nasehat orang tua untuk menghabiskan makanan yang disantapnya. Lantas bagaimana kalau baru makan separuh sudah kenyang? Ya kita perlu membiasakan untuk membungkus untuk dibawa pulang alias “take away”…Silahkan bilang sama pelayan restoran untuk minta dibungkus bawa pulang. Kalau gengsi ya bilang saja untuk Bleki anjing piaraan dirumah. Kalau di luar negeri, rasanya biasa kalau kita bilang sama pelayan untuk minta dibungkus untuk “take away”. Restauran atau warung ya harus dibiasakan agar punya kotak pembungkus bagi pelanggannya yang mau membawa pulang makanan yang nggak habis disantap. Nah untuk urusan bagi-bagi zakat atau makan di restauran kayaknya juga perlu ada sistem juga nih. Tapi sekali lagi terlepas dari sistem untuk bagi zakat dan makan yang tidak habis disantap di restauran, hal mendasar yang melatarbelakangi kejadian tersebut diatas yaitu kemiskinan perlu diatasi tentunya dengan secara sistemik juga.

 Eh jangan lupa, ada juga peristiwa yang hanya terjadi di Indonesia yaitu orang ketabrak pesawat terbang yang gagal mendarat dan nggak bisa berhenti. Biasanya kalau ada kecelakaan pesawat terbang yang jadi korban adalah penumpangnya, tapi dalam kejadian di Indonesia itu korbannya adalah lagi-lagi si kecil nan miskin yang sedang ngurusi ladangnya dan ketabrak pesawat. Si kecil nan miskin tentu saja salah karena berladang kok di wilayah bandara udara (sama salahnya dengan si kecil nan miskin yang tinggal di pinggir jalan kereta api). Tapi kembali lagi…inilah tragedi kemiskinan di negeri kita. Si kecil nan miskin, wong cilik, rakyat kecil, atau apapun namanya, mereka nggak pernah tahu urusan banjir gula rafinasi, integrasi ekonomi kawasan, liberalisasi perdagangan, naiknya harga minyak, dan lain-lain. Mereka cuma butuh makan, yang kalau dalam bahasa keren hidup cukup sandang pangan. Nggak muluk-muluk keingininannya. Bisa nggak siihhhh??? Ahh…si Herry ini lagi nulis apa sih??? Kok ngomel terus?? Nggak tahu lah, yang pasti aku lagi risau lihat kejadian-kejadian itu. Dari pada ngomel di jalan (bisa dikira demo atau gila), mendingan berbagi risau disini. Komentar????    

Tanggapan

  1. Wah, jujur saya juga mengalami risau yg hampir sama Pak. Sebagai individu dan insan PNS, sy sering merenung dan berpikir ‘apa yg salah pd negeri yg tercinta ini?’. Atau mungkin betul apa yg pernah didendangkan Ebiet G. Ade dlm lagunya bahwa Tuhan mulai bosan, melihat tingkah kita, yg selalu salah&bangga dgn dosa2 (seperti yg diperlihatkan para koruptor yg sudah jelas tertangkp tangan tapi masih sempat melempar senyuman yg indah kepada para wartawan). Atau mungkin jg ini cobaan utk pemerintahan kita saat ini bahwa untuk me-reformasi negara itu tak semudah yg kita duga dimana kita jg hars lebih melihat faktor alam (yg diluar jangkauan kita) dan yg jelas jg manusianya. Mungkin kalau kita rinci akan banyak sekali faktor2 yg menyebabkn hal2 demikian terjadi. Namun jika kita lihat kembali, kita mash dpt bersyukur dimana ternyata mash banyk negara2 lain di dunia ini yg menghadapi cobaan lebih parah dr kita. Dari inflasi yg sangat tinggi yg dialami Zimbabwe sampai negara maju sekelas US pun tak luput dr bencana dimana berbagai macam badai dr katarina, gustav, ike, josephine, hanna…entah apalg. Sepertinya kita hrs mulai berpikir positif bahwa hal2 ini lah yg akan membuat kita menjadi lbh baik jika kita lebih sering barsyukur atas nikmat yg telah diberikan kepada kita….Semoga saja……
    Oh, yaa Pak…. sekali lg…. Selamat yah atas award-nya…… Salud….

  2. mas, kalau “cuma” berbagi risau atau nggrememeng, mungkin gak akan pernah ada habisnya mas. dan apakah dengan begitu, membuat semua permasalahan menjadi selesai?


Beri tanggapan

Your response: