Seputar Kita

Tengok seputar kita…Ada yang tawuran, ada yang buron, ada yang ditangkap, ada yang sadap menyadap telpon, ada yang merasa benar sendiri dan yang lain salah, ada yang bunuh isteri dan ditanam di halaman rumah, ada yang nggak terima dan marah karena kalah berkompetisi, dan ada yang ini dan itu…Macam-macam….Tapi, tengok juga seputar kita, ada yang berhasil ke final turnamen Aviva Singapura Series, ada yang pengusaha kecil menengah yang berhasil sukses, ada putra-putri kita yang berhasil dibidang ini dan itu, ada perempuan-perempuan yang sukses dibalik maraknya layar sinetron, ada musisi yang produktif dalam berkarya dan sukses. Pokoknya macam-macam diseputar kita. Ayo kita catat apa yang bisa ditangkap disekitar kita. Semua bisa menjadi cermin bagi kita yang hidup ditengah komunitas yang beragam ini. Apa yang baik bisa menjadi contoh dan yang buruk jangan ditiru. Salam

Tanggapan

  1. sekitar kita memang penuh dengan polemik kehidupan….ada yg bilang menemukan blue energy…tapi ada yg bilang itu bohongan…ada juga yang punya title “Bos-nya kita-kita” hehehe…cuma mau nambahin aja om….

  2. Hidup diantara masyarakat kita yang sangat pluralistik ini memang memiliki tantangan yang besar. Akhir-akhir ini media nasional diramaikan oleh berita-berita mengenai kerusuhan PILKADA (Pemilihan Kepala Daerah), Demonstrasi yang berujung kepada tindak kekerasan dan kerusuhan, Tawuran antar kampus, dsb.

    Sebenarnya ini fenomena apa ?? kenapa sebagian masyarakat kita sekarang sangat mudah melakukan kekerasan?? apakah karena sistem control sosial yang lemah atau masyakarakt kita sudah mengalami degradasi moral ?? untuk menjawab pertanyaan ini kita harus melihat akar permasalahannya dulu.

    Contoh kasus, hampir disetiap PILKADA di daerah selalu diakhiri dengan kerusuhan, isu kecurangan, money politics dsb mewarnai PILKADA di daerah-daerah. Sebenarnya ini adalah efek yang timbul akibat tidak bekerjanya sistem control. Politik menjadi komoditas ya kerusuhan jadinya. Idealnya KPU/Pemerintah/LSM/ Elemen-elemen masyarakat saling bekerjasama dalam menjalankan fungsi-fungsi monitoring untuk menjamin terciptanya transparansi dan kejujuran dalam proses PILKADA adalah hasil yang diperoleh adalah adil dan bersih. jadi kita tak perlu tawuran setelah PILKADA selesai. Tapi ini yang namanya proses pembelajaran demokrasi, jatuh bangun dulu sebelum kita mengalami fase yang namanya Berdemokrasi secara Bertanggungjawab.

    Tawuran antar kampus… wah ini mah lagu lama..kenapa bisa ya, kaum mahasiswa kita yang dibanggakan, yang disebut-sebut sebagai generasi penerus atau masyakarat ilmiah/intelek saling serang, saling melukai?? bukti ini mematahkan hipotesis bahwa perbuatan kekerasan hanya didominasi oleh orang-orang yang berpendidikan rendah, ternyata orang-orang yang berpendidikan tinggi cukup mampu melakukan tindak kekerasan. Lantas apa jadinya bila kelak negara kita dipimpin oleh mereka?? tak terbayang rasanya. Mungkin saja mereka bisa melakukan itu karena frustasi akibat tekanan kuliah yang berat, stress dsb. Ada baiknya pihak pejabat-pejabat kampus memperhatikan masalah ini dengan menyusun dan memfasilitasi program-program kegiatan kampus yang lebih bermanfaat sebagai tempat penyaluran kegiatan para mahasiswanya.

    Masyarakat kita memang harus bisa belajar menahan diri, berfikir jernih dalam menyikapi setiap permasalahan yang muncul dengan begitu kita bisa menjadi bangsa yang berjiwa besar dan tangguh dalam menghadapi setiap tantangan.

  3. menurut buku “berpikir & berjiwa besar” stephen r covey, “sekitar kita merupakan laboratorium kita dalam mempelajari tujuan hidup kita”. maka byk yg bilang belajarlah dari pengalaman orang lain. dapat sy simpulkan jika orang ingin menjadi pengusaha maka berpikirlah seperti pengusaha2 yg ada,jika ingin menjadi pemimpin berpikirlah seperti pemimpin. jadi jika kita melihat sekitar kita yg kurang baik bisa kita kaji kenapa mereka bisa melakukan hal negatif seperti itu. ini biasaanya tidak melihat sekitar kita hal yang baik/positif.


Beri tanggapan

Your response: