Agama Bukan Akar Kekerasan

Kutipan dari SINDO ini ok banget…..Agama Bukan Akar Kekerasan
Friday, 27 June 2008
JAKARTA(SINDO) – Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin menyatakan, salah satu kesimpulan World Peace Forum (WPF) adalah agama bukan akar kekerasan.Meski begitu, ajaran suatu agama bisa disalahartikan dan digunakan untuk memecah belah masyarakat. “Agama justru bisa dijadikan solusi selama masyarakat benar-benar memahami ajaran agama tersebut,”kata Din Syamsuddin menyebut salah satu rekomendasi hasil pertemuan World Peace Forum (WPF) ke-2 di Hotel Sultan, Jakarta,kemarin.

Agama, lanjut Din, tidak pernah menganjurkan untuk melakukan kekerasan. Pendidikan seorang pemimpin akan memengaruhi membangun kesadaran moral, saling pengertian, dan respek terhadap undang-undang, termasuk upaya untuk saling menghormati budaya dan agama lain.

“Kami percaya bahwa kedamaian dunia tidak bisa diraih selama kita tidak mampu mengendalikan ketidakadilan, sikap ekstrem, intoleransi, diskriminasi, fitnah, dan segala bentuk kekerasan, termasuk konflik antarnegara, genocide (pemusnahan terhadap salah satu bangsa), represif, serta segala bentuk pelanggaran hak asasi lainnya, termasuk terorisme, agresi, dan segala hal yang melecehkan harga diri,” lanjutnya WFP juga merekomendasikan agar pemerintah dan negara-negara besar memberikan kontribusi lebih besar bagi kedamaian.

Dampak globalisasi yang tidak merata, ketamakan, ketidakadilan, dan perampasan ekonomi menjadi pemicu kekerasan seperti yang terjadi di beberapa belahan dunia.”Penggunaan senjata dan kesenjangan global,mendorong kelompok- kelompok tertentu untuk menggunakan kekerasan sebagai jalan pintas. Pemerintah harus mampu untuk mencegah dan menanggulanginya, ” ungkapnya.

Hasil pertemuan lintas agama dan budaya yang digelar 24–26 Juni lalu juga menekankan pentingnya aksi organisasi sosial untuk meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat bawah. Langkah ini untuk mengurangi ketidakadilan yang tidak merata. Masyarakat di akar rumput ini, tegas Din, menjadi salah satu unsur penting yang harus terlibat penuh dalam proses politik.

Dalam kesempatan tersebut, peserta dan panelis WPF juga percaya bahwa media memiliki peran penting dalam menciptakan komunitas yang lebih toleran yang menaruh respek terhadap hak asasi manusia. Kekuatan media sebagai penyampai pesan damai sangat diharapkan untuk meminimalisasi kerusuhan. WFP ke-2 ini kemarin ditutup Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla di Gedung 2, Kantor Wapres, Jakarta.

Menurut Kalla, kerukunan antarumat beragama akan tercipta jika ada kesejahteraan dan persamaan hak.Kesejahteraan dan persamaan hak ini bisa diwujudkan melalui lapangan pekerjaan yang luas dan pendidikan yang baik.”Jika negara minim lapangan pekerjaan, orang akan mudah tersulut konflik,” tutur Wapres Jusuf Kalla.

Kalla yang mengenakan batik berwarna merah marun ini juga berpesan kepada para pemuka agama dari seluruh dunia yang hadir untuk saling meningkatkan kerja sama. Kerja sama yang dimaksud bukan hanya seputar masalah agama, melainkan di bidang lainnya.

“Mari meningkatkan kerja sama di berbagai bidang. Tidak hanya kerja sama membahas masalah agama, tetapi juga bagaimana mengimplementasi sistem dan saling menghormati satu sama lain,”papar Kalla. (sofian dwi/maya sofia)

 

sumber : sindo

Tanggapan

  1. Semua agama mengajakan kebaikan hanya tinggal masing masing penganutnya saja dari sisi mana dia melihatnya. Kekerasan atau ekstrimitas itu biasanya dituggangi oleh keperluan politik atau odium theologicum yang sempit. Saya masih ingat di suatu peringatan 17 Agustus tahun 1978 di tempat tinggal kami di Tebet , sa’at itu Robby Sumampauw teman saya mengingatkan saya ketika sudah waktu magrib saya masih sibuk tarik tarik kabel sound system dia bilang ” Fie, itu magrib dah lewat sana sholat, gw ga mau ikutan nanggung dosa biarin lo terlambat sholat!”. Saya terhenyak diingatkan olehnya. Kemudia Robby melanjutkan kuliahnya di Jerman disana dia menjadi salah seorang pengurus Ikatan Pelajar Kristen Indonesia namun hingga kini saya kehilangan kontak dengannya. I miss you bro , really miss you!.


Beri tanggapan

Your response: