Seputar Ke-bhinekaan

Tulis komentar apa saja yang kamu mau tulis. Bebas bicara sekaligus menjunjung tinggi ke-bhinekaan. Banyak hal yang dapat menimbulkan pencerahan pada diri kita kalau kita bisa bebas menyampaikan pendapat dan pemikiran. Kreativitas bisa timbul dalam iklim yang tidak mengikat dan kebebasan menyampaikan ekspresi dapat lebih membuat kehidupan kita lebih “berwarna” dan tidak statis. Kebebasan inilah kata kuncinya, namun sekaligus menyadari bahwa kita hidup ditengah komunitas yang beragam. Kebebasan ini dilakukan dengan tanggung jawab dan pemahaman bahwa kita tidak hidup sendiri. Dengan demikian menghargai kebebasan berjalan seiring dengan penghargaan kita atas ke-bhinekaan yang ada disekeliling kita. Topik pembicaraan??? Silahkan saja mulai dari musik, perdagangan internasional, kehidupan sehari-hari….monggo mawon, silahkan, please…

Tanggapan

  1. Renungan..

    Sebelumnya saya berkulo nuwun dulu dan berterimakasih buat Bapak yang punya blog ini…

    Saya cuma mo cerita tentang pengalaman pribadi saya secara singkat, terutama pada waktu kecil (Taman Kanak2 sampai SMP).

    Saya anak bungsu kelahiran 1967 dari sembilan bersaudara, tujuh laki2 dan dua perempuan. Bapak saya adalah Penatua Gereja HKBP pada waktu itu (pensiunan ABRI Tahun dulu dan selanjutnya bekerja sbg karyawan swasta rendahan) dan Ibu saya sangat aktif juga di Gereja tsb (pada waktu itu Guru SMP Negeri sampai pensiun umur 65 tahun).

    Nah, pada jaman itu, saya disekolahkan oleh Orang Tua saya di TK Attaqwa jl. Rajawali 5 Pademangan Jakut dan TK tsb satu kompleks dengan masjid Attaqwa. Di TK itu, setiap hari kami melantunkan ayat Al Fathiha pada saat memulai sekolah dan pada waktu pulang sekolah. Disamping itu, kami juga diajarkan tulisan arab dan pelajaran agama Islam lainnya.

    Setelah itu saya melanjutkan SD di sebelah sekolah tsb (SDN V Jakarta Utara) dan kemudian kelas V, pindah ke Perumnas Depok I Jawa Barat.

    Di Depok, rumah saya dekat masjid (Al Muhadjirin) dan saya sering berkunjung ke sana apabila bulan puasa tiba. Saya sering menunggu teman2 Sholat dan bahkan pada waktu Malam Takbiran, saya ikut memukul beduk bergantian sampai pagi.

    Orang Tua saya mengetahui ini semua dan pada waktu SMA kelas 3-an, saya menanyakan kenapa saya disekolahkan di TK Attaqwa dan saya juga tidak dilarang kalau saya sering bermain di Masjid dan bahkan ikut memukul beduk?

    Ringkasan Jawaban Orang Tua saya adalah sbb: kita harus tahu banyak tentang keyakinan orang lain, sehingga kamu tidak perlu saling ejek atau saling menghina agama orang lain. Orang Tua saya meyakini bahwa dimensi agama yang universal adalah mengajarkan kebaikan, sehingga dengan sedikit banyak mengetahui agama orang lain, saya diharapkan oleh Orang Tua saya untuk bisa lebih menghargai dan bahkan harus hidup berdampingan dimanapun dan dengan siapapun, tanpa melihat perbedaan2 yang ada (khususnya agama), asalkan didalam hubungan itu kita tetap punya niat baik dan tulus.

    Saya juga pernah tinggal di daerah jawa tengah, yang mana banyak saya temukan satu keluarga dengan beragam keyakinan. Orang Tua dan Anak2, ada yang memeluk agama Islam, kristen dan Katholik dan bahkan tinggal serumah. Betapa senang dan bangga saya pada waktu itu. Dan saya sangat menikmati kehidupan pada waktu itu.

    Masalahnya sekarang ini, di Indonesia ada “gerakan pengentalan” terhadap perbedaan agama yang cukup nyata dan terang2an di dalam kehidupan bermasyarakatnya. Saya prihatin sekali dan berharap persepsi saya ini salah, sehingga apa yang saya alami dulu itu, masih dapat saya nikmati apabila saya akan pulang ke Indonesia tercinta inis eterusnya. Terima kasih.

    Salam MERDEKA.

  2. Biarlah kita hidup seperti bunga di taman dengan memberikan harum semerbak dan kesejukan bagi yang meihatnya dengan ciri khas sendiri bak mawar melati berbeda beda tapi semuanya indah.


Beri tanggapan

Your response: