Pangkalannya Herry Soetanto

Juni 26, 2011

Memasyarakatkan “ASEAN” dan Meng”ASEAN”kan Masyarakat

Saya kutip Winfried Weck dari Konrad Adenauer Stiftung (KAS) dalam pemberitaan “Jakarta Post” tanggal 24 Pebruari 2010 yang mengatakan ” ASEAN’s initiative of one community might remain bleak because members treated the grouping as their “foreign policy field” that saw little involvement from other stakeholders beyond foreign ministers” . Kalau dipikir-pikir, melihat usia ASEAN sebagai organisasi kawasan yang usianya lebih dari 40 tahun, kok kayaknya perasaan seperti itu masih ada. Lha kalau perasaan itu masih ada dalam hati para stakeholders diluar kementerian luar negeri, lantas bagaimana dong upaya untuk mencapai ” One Vision, One Identity, One Community” sebagai slogan untuk menggambarkan cita-cita ASEAN dimasa depan. Semangatnya sudah ada untuk terbentuknya satu komunitas dikawasan Asia Tenggara. ASEAN sudah punya peta jalan bagi terbentuknya Komunitas ASEAN pada tahun 2015. Sudah ada “ASEAN Charter” yang membuat ASEAN lebih punya dasar hukum.  Dipilar Politik dan Keamanan juga sudah ada “ASEAN Political-Security Blueprint”, dipilar Ekonomi sudah ada “ASEAN Economic Community Blueprint”, dan untuk bidang Sosial Budaya juga ada “ASEAN Socio-Cultural Community Blueprint”. Selain cetak biru untuk ketiga pilar  tersebut, agar dapat mempersempit “development gap” diantara negara-negara anggota ASEAN yaitu antara ASEAN 6 (Malaysia, Singapura, Thailand, Indonesia, Brunei, Philippina) yang relatif lebih maju dengan ASEAN 4 yaitu Kamboja, Laos, Myanmar, Vietnam (meskipun perkembangan Vietnam yang sudah maju juga sih….tapi kok masih di kelompok ini ya???), ASEAN juga menyepakati ”Initiative for ASEAN Integration (IAI) Strategic Framework and IAI Work Plan 2 (2009-2015)” . Pokoknya semua sudah OK, ada tujuannya, ada strateginya, dan ada jangka waktu untuk pencapaiannya. Tempat untuk membahas berbagai masalah dalam mempersiapkan dan menjalankan cita-cita ASEAN itu?? Jangan khawatir sudah tersedia berbagai persidangan di ASEAN mulai dari tingkat bawah alias teknis sampai strategik pada tingkat kepala pemerintahan. Pokoknya dari segi perencanaan strategiknya sudah matang sekali.

Pada tahun 2011 ini tugas Indonesia sangat berat karena kegilir jadi Ketua ASEAN. Kalau mau tahu bagaimana beratnya tugas Indonesia itu, silahkan lihat pagar Kementerian Luar Negeri RI yang dipasang berbagai slogan tentang cita-cita ASEAN. Ini kalau mau melihat secara mudah lho…dan mudah-mudahan sampai tulisan ini saya selesaikan masih ada. Memang bukan cuma tugas Indonesia saja, tapi tugas semua negara anggota ASEAN juga. Tapi setidaknya pada tahun 2011, ada beban tanggung jawab Indonesia untuk menunjukkan kepemimpinannya. Apalagi kalau melihat hasil dari persidangan ASEAN yang sangat banyak dan harapan-harapan yang tercermin dari berbagai slogan yang bisa kita lihat diberbagai lembaga pemerintah di Jakarta bahkan sampai di daerah. Pokoknya dari rakyat jelata sampai para petinggi dan elit digugah untuk paham mengenai ASEAN. Belum lagi kalau bicara mengenai berbagai seminar, sosialisasi, workshop, FGD (opo kuwi…oh Forum Group Discussion tho…). Pokoknya ASEAN…ASEAN…ASEAN….2015…2015…2015 sudah jadi rangkaian kata dan angka yang mestinya dipahami. Bendera negara anggota ASEAN plus bendera dengan gambar simbol ASEAN juga berkibar dimana-mana. Nggak apa-apa sih….memang harus kayak gitu kalau mau semua orang tahu. Masalahnya adalah apakah hanya berhenti pada sekedar publik tahu??? Bagaimana agar publik secara umum tahu bahwa ASEAN itu penting bagi kehidupan mereka, paling tidak untuk masa depan??? dsbnya…dsbnya. Lha terus ‘gimana dong??? Kayaknya diluar kegiatan-kegiatan yang sifatnya strategik, besar, dan “wah”, perlu juga ada aktivitas yang menimbulkan keterlibatan publik, misalnya acara ulang tahun ASEAN jangan hanya resepsi diplomatik saja tapi semua pihak didorong bikin acara misalnya bazar, sepeda bersama, atau acara rakyat sampai di kampung-kampung. Ya kayak kalau 17 Agustusan itu…Saya katakan “semua pihak didorong” untuk kegiatan-kegiatan itu dan dilakukan secara kontinyu alias setiap tahun dalam rangka ulang tahun ASEAN. Pelaksanaan teknisnya termasuk ongkos, bisa dirembug lah…Masak punya konsep dan cita-cita besar seperti Integrasi Kawasan kok bingung ongkosnya…Bisa juga menyebarkan luaskan lambang ASEAN agar bisa dilihat publik secara menyolok dan permanen di bandara-bandara udara, setasiun kereta api kota-kota besar, pelabuhan laut, pintu gerbang jalan toll dan sebagainya. Pokoknya diusahakan agar “we feeling” nya ASEAN (opo kuwi???) nggak hanya dipahami oleh para pemerintah, birokrat, perunding, pengusaha, tetapi juga oleh rakyatnya. Kalau semua dilaksanakan secara terpadu mestinya keinginan seperti judul diatas itu sedikit demi sedikit akan terwujud. Atau mesti membentuk suatu Kementerian atau Satgas untuk ngurusi masalah Integrasi Kawasan terutama untuk urusan pekerjaan rumah??? (kok Satgas lagi sih..). Monggo silahkan ditimbang-timbang eh…dipertimbangkan..Matur Nuwun.

Jakarta, 26 Juni 2011

1 Komentar »

  1. Selamat Siang menjelang Sore Pak.. Terbawa alam bawah dan atas sadar *heheheh* dari judul tulisan Bapak re “Asean & Masyarakat”, jujur saja Pak, ini mewakili kerisauan saya mengenai “we-feeling”-nya masyarakat Asean. Tentu, -masih- sebuah utopia rasanya jika kita berpikir bahwa Asean dg slogan ala kepemimpinan Indonesia thn ini adl the real Asean. Karena jangankan antar AMS-nya, within each country ada sejumlah masalah disintegrasi yang bkn sekedar basa-basi.

    Setiap kali teman, keluarga, atau hanya kenalan mengetahui sy adl seorang PNS, mrk sll minta penjelasan slogan Asean ala Indonesia tsb, trutama yang versi sang pemimpin tertinggi negeri. Dan saya selalu tercenung, lamaaaaa … Sebelum menjawab terbata2, sambil terus berusaha mengingat2 jawaban -sebelumnya yg sy teruskan dr apa yg pernah saya dengar secara birokratis :p- Takut salah, dan takut memberikan persepsi yg keliru, krn slogan tsb duhai alangkah maha beratnya !! (Asean Community in a global community of nations).

    Apalagi jk berhadapan dg keponakan2 yg bacaannya sdh merambah isu sospol, satu kalimat bs dielaborasi jd berbagai topik yg menambah pusing, mereka sungguh ingin bukti “where are we in Asean?” Sbg yang duluan lahir, bkn jaminan ternyata bhw penjelasan sy diterima mentah2 oleh para “krucil” itu. Kata mereka “what is a proof of one Asean identity/community, let alone one vision”, show me !! Dan saya merasa tertohok, terutama ditambah komentar “even here in our own country, we ain’t fully united yet, be it by Pancasila, UUD’45, or d one major language Bahasa Indonesia”. Sy terngiang2 dg pertanyaan “apakah slogan adalah sama dg mimpi aka lips service? Bukankah seharusnya slogan adl kata2 pemompa semangat utk kt berproses menuju sesuatu?” Slogan seharusnya berupa motto berisi ide singkat, padat, jelas, & tegas, serta memberikan ruang utk penjelasan lbh lanjut. Namun jika motto tsb sudah abstrak 100%, penjelasan yg multi-interpretasi-lah yg dpt ditawarkan, krn bobot slogan yg sungguh berat sekali itu.

    Dan sy bertanya2 sendiri, terlepas dr kaitan pekerjaan (at least sampai skrg msh ada yg bs dibaca) re Asean, “what do I know/understand about Asean Community in the -or a- global community of nations, yang one vision, one identity, one community?”.

    Sampai detik tulisan ini dikirim kpd Bapak, sy msh berpikir .. Entah sampai kapan :)

    Salam hormat Pak Herry ..

    Komentar oleh ana saleh — Juni 26, 2011 @ 15:19 | Balas


RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Theme: Rubric. Blog pada WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.